
Assalamu'alaikum... lama banget ngga nongkrong di blog sendiri. hiks. Sok sibuk bingit ini mah, jadi ngga sempat ngurus. Maaf yak? semoga kedepannya bisa istiqomah menulis di sini. insya Allah.
Nih, spesial pake telur buat temen-temen semua yang mau ta'aruf sama ikhwan. Uraian singkat ini moga bisa membantu.Dari pada kelamaan, ba bi bu ta ti tu sa si su. Hehe. Cekidot saja yak. Monggo..
“Saya sangat setuju jika tidak
adanya pacaran, menurut saya kok ngga ada manfaatnya sama sekali dan ternyata
ada banyak hikmah yang bisa kita petik kalo ngga nelakuin pacaran. Ngapain
pacaran? Nggak ada jaminannya juga bisa melanggengkan hubungan. Kalo pacaran
yang dilihatin cuman kebaikannya aja, padahal manusia kan ngga ada yang
sempurna, pasti ada khliaf-nya. Baru keliatan sifat seseorang kalo sudah
serumah..” begitulah ungkapan
sederhana yang terlontar dari dosen muslimah saya pada suatu kesempatan. Asyik
juga punya dosen yang punya ilmu agama yang ngga bisa diremehin. :)
Merupakan pilihan jika memang kita tidak melakukan hal yang
biasa dilakukan oleh remaja seusia kita. Setelah saya paham akan adab pergaulan
lawan jenis, saya bertekad untuk mempraktekkannya. \^,^/ bismillaah saja.“Kalo ngga pacaran terus gimana
donk kenal sama calon suami kita??” mungkin ada yang tanya seperti
ini.
Awal proses syar’i untuk mengenal pasangan langkah pertama
dinamakan ta’aruf. Yang mana dipertemukannya antara ikhwan dan akhwat dengan
tujuan yang mulia untuk menyempurnakan agama, perlu dicatat dalam proses ini
ikhwan akhwat tidak berduaan, akan tetapi bisa ditemani oleh mahrom bisa dari
salah satu pihak. Bisa juga tidak dipertemukan akan tetapi, mengenal dari ‘rekomendasi’
kerabat maupun ustadz/ah :D *kalo dipertemukannya saat khitbah(meminang).
Dalam memilih calon pasangan
hidup bukanlah seperti kata orang-orang ‘membeli kucing didalam karung’. Ngga
usah dibuaat bingung, Allah sudah mengaturnya masalah ini. Sebelum seorang
ikhwan menikahi akhwat dan sebaliknya seorang akhwat mau menikah dengan ikhwan.
Tentunya keduanya harus mengenal satu sama lain, tapi cara pengenalan disini
tidak seperti yang dilakukan oleh mereka yang kurang paham terhadap syariat
Allah, yakni menghalalkan pacaran atau pertunangan dalam rangka (katanya) ajang
saling mengenal padahal penjajakan calon pendamping hidup. -_-*tepok jidat* :D
Yang dimaksud mengenal calon pasangan adalaha mengetahui,
siapa namanya, asalnya, keturunannya, keluarganya, akhlaknya, agamanya, dan
informasi lainya yang dibutuhkan. Cara ini bisa ditempuh dari pihak ketiga,
yakni bisa melalui guru ngaji, kerabat, sahabat maupun teman. Asal ngga japri
(jaringan pribadi) yak? Hehe. eh?
Nasihat yang saya dapat dari saudari yang lebih dahulu melakukan
ta’aruf, “Jauh-jauh hari sebelum melangsungkan ta’aruf dengan ikhwan
sebaiknya kita menyiapkan list pertanyan-pertanyaan agar mengetahui karakter
ikhwan tersebut sehingga lebih memudahkan kita melanjutkan proses ta’aruf..”
Beberapa list pertanyaan yang dimaksud ialah apa yang
dilakukan ketika marah, hal apa yang membuat marah,hal apa saja yang biasa
dilakukan, apa makanan kesukaan, kalo punya istri sukanya yang bagaimana
(dirumah mendidik anak2/kerja), kriteria istri yang diharapkan, visi dan misi
menikah, gambaran rancangan finansial untuk anak, konsep mendidik anak,
pandangan mengenai poligami, dst.
Nasehat
Ustadz Ahmad Gozali untuk muslimah jika ada ikhwan mengajak ta’aruf, “Jangan
lihat siapa dirinya sekarang, tetapi lihatlah potensi yang dimilikinya. Bisa
jadi ia, si calon akan menjadi jauh lebih besar dari sekarang. Jangan dilihat
juga seberapa besar penghasilannya tetapi seberapa besar tanggungjawabnya dalam
mengusahakan nafkah untuk istri dan anaknya kelak. Kerena besar tanggung
jawabnya bukan tidak mungkin akan lebih memotivasi dalam mencari penghasilan
yang lebih baik lagi.”
Yang perlu diingat dan kita
praktekkan ketika (nanti) ta’aruf baiknya kita menjaga dan membatasi interaksi
dengan ikhwan tersebut melalui sms, BBM, WA, inbox fb, telfon, dst. Maskipun
telah berstatus ta’aruf, ini masih langkah awal lho. Jangankan ta’aruf yang
sudah menerima khitbah saja masih harus menjaga interaksi. Yak, demi mencegah
terjadinya fitnah. Sabar dikit yak? Belajar dari sahabat saya yang beberapa
waktu lalu ta’aruf, beliau berprinsip
jika calon suaminya ingin menghubunginya
tidak langsung melalui sms maupun telfon akan tetapi melalui perantara yaitu orangtua
sang calon suami.
Yak, tak ada tujuan lain untuk menjaga agar tidak terjadi
fitnah. Semoga bisa memberi manafaat. Semoga kita dimudahkan untuk menjaga hati
dan pandangan kita hingga ‘halal’. Sekarang kan sudah tahu ilmunya,,, selamat
mengamalkan yak? #ukhtifillah :D ^0^
ditunggu undangannya :))
Bumi Allah, Layla 13/5/2014
Maroji’ :
-
Catatan pribadi