Senin, 12 Mei 2014

Tak Kenal? Maka Ta'aruflah


Assalamu'alaikum... lama banget ngga nongkrong di blog sendiri. hiks. Sok sibuk bingit ini mah, jadi ngga sempat ngurus. Maaf yak? semoga kedepannya bisa istiqomah menulis di sini. insya Allah. 


Nih, spesial pake telur buat temen-temen semua yang mau ta'aruf sama ikhwan. Uraian singkat ini moga bisa membantu.Dari pada kelamaan, ba bi bu ta ti tu sa si su. Hehe. Cekidot saja yak. Monggo..

“Saya sangat setuju jika tidak adanya pacaran, menurut saya kok ngga ada manfaatnya sama sekali dan ternyata ada banyak hikmah yang bisa kita petik kalo ngga nelakuin pacaran. Ngapain pacaran? Nggak ada jaminannya juga bisa melanggengkan hubungan. Kalo pacaran yang dilihatin cuman kebaikannya aja, padahal manusia kan ngga ada yang sempurna, pasti ada khliaf-nya. Baru keliatan sifat seseorang kalo sudah serumah..”  begitulah ungkapan sederhana yang terlontar dari dosen muslimah saya pada suatu kesempatan. Asyik juga punya dosen yang punya ilmu agama yang ngga bisa diremehin. :)


Merupakan pilihan jika memang kita tidak melakukan hal yang biasa dilakukan oleh remaja seusia kita. Setelah saya paham akan adab pergaulan lawan jenis, saya bertekad untuk mempraktekkannya. \^,^/ bismillaah saja.“Kalo ngga pacaran terus gimana donk kenal sama calon suami kita??” mungkin ada yang tanya seperti ini.


Awal proses syar’i untuk mengenal pasangan langkah pertama dinamakan ta’aruf. Yang mana dipertemukannya antara ikhwan dan akhwat dengan tujuan yang mulia untuk menyempurnakan agama, perlu dicatat dalam proses ini ikhwan akhwat tidak berduaan, akan tetapi bisa ditemani oleh mahrom bisa dari salah satu pihak. Bisa juga tidak dipertemukan akan tetapi, mengenal dari ‘rekomendasi’ kerabat maupun ustadz/ah :D *kalo dipertemukannya saat khitbah(meminang).


Dalam memilih calon pasangan hidup bukanlah seperti kata orang-orang ‘membeli kucing didalam karung’. Ngga usah dibuaat bingung, Allah sudah mengaturnya masalah ini. Sebelum seorang ikhwan menikahi akhwat dan sebaliknya seorang akhwat mau menikah dengan ikhwan. Tentunya keduanya harus mengenal satu sama lain, tapi cara pengenalan disini tidak seperti yang dilakukan oleh mereka yang kurang paham terhadap syariat Allah, yakni menghalalkan pacaran atau pertunangan dalam rangka (katanya) ajang saling mengenal padahal penjajakan calon pendamping hidup. -_-*tepok jidat* :D

Yang dimaksud mengenal calon pasangan adalaha mengetahui, siapa namanya, asalnya, keturunannya, keluarganya, akhlaknya, agamanya, dan informasi lainya yang dibutuhkan. Cara ini bisa ditempuh dari pihak ketiga, yakni bisa melalui guru ngaji, kerabat, sahabat maupun teman. Asal ngga japri (jaringan pribadi) yak? Hehe. eh?


Nasihat yang saya dapat dari saudari yang lebih dahulu melakukan ta’aruf, “Jauh-jauh hari sebelum melangsungkan ta’aruf dengan ikhwan sebaiknya kita menyiapkan list pertanyan-pertanyaan agar mengetahui karakter ikhwan tersebut sehingga lebih memudahkan kita melanjutkan proses ta’aruf..”
Beberapa list pertanyaan yang dimaksud ialah apa yang dilakukan ketika marah, hal apa yang membuat marah,hal apa saja yang biasa dilakukan, apa makanan kesukaan, kalo punya istri sukanya yang bagaimana (dirumah mendidik anak2/kerja), kriteria istri yang diharapkan, visi dan misi menikah, gambaran rancangan finansial untuk anak, konsep mendidik anak, pandangan mengenai poligami, dst.



Nasehat Ustadz Ahmad Gozali untuk muslimah jika ada ikhwan mengajak ta’aruf, “Jangan lihat siapa dirinya sekarang, tetapi lihatlah potensi yang dimilikinya. Bisa jadi ia, si calon akan menjadi jauh lebih besar dari sekarang. Jangan dilihat juga seberapa besar penghasilannya tetapi seberapa besar tanggungjawabnya dalam mengusahakan nafkah untuk istri dan anaknya kelak. Kerena besar tanggung jawabnya bukan tidak mungkin akan lebih memotivasi dalam mencari penghasilan yang lebih baik lagi.”


Yang perlu diingat dan kita praktekkan ketika (nanti) ta’aruf baiknya kita menjaga dan membatasi interaksi dengan ikhwan tersebut melalui sms, BBM, WA, inbox fb, telfon, dst. Maskipun telah berstatus ta’aruf, ini masih langkah awal lho. Jangankan ta’aruf yang sudah menerima khitbah saja masih harus menjaga interaksi. Yak, demi mencegah terjadinya fitnah. Sabar dikit yak? Belajar dari sahabat saya yang beberapa waktu lalu ta’aruf,  beliau berprinsip jika  calon suaminya ingin menghubunginya tidak langsung melalui sms maupun telfon akan tetapi melalui perantara yaitu orangtua sang calon suami.
Yak, tak ada tujuan lain untuk menjaga agar tidak terjadi fitnah. Semoga bisa memberi manafaat. Semoga kita dimudahkan untuk menjaga hati dan pandangan kita hingga ‘halal’. Sekarang kan sudah tahu ilmunya,,, selamat mengamalkan yak? #ukhtifillah  :D ^0^ ditunggu undangannya :))


Bumi Allah, Layla  13/5/2014


Maroji’ :

-          http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/29/pernikahan-menurut-islam-dari-mengenal-calon-sampai-proses-akad-nikah/

-          Catatan pribadi